For Infinity and Beyond

This life is absolutely simple and absurd

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris ...

  • Category name clash

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

  • Test with enclosures

    Here's an mp3 file that was uploaded as an attachment: Juan Manuel Fangio by Yue And here's a link to an external mp3 file: Acclimate by General Fuzz Both are CC licensed. Lorem ...

  • Block quotes

    Some block quote tests: Here's a one line quote. This part isn't quoted. Here's a much longer quote: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. In dapibus. In pretium pede. Donec ...

Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar

Last night, I just tought maybe just maybe I like him, for real. 
             Hati dan perasaan ini mengapa payah sekali? Sulit dimengerti dan dipahami. Oh, bahkan kamu tidak akan mengerti apa yang sedang hatimu rasakan. Ya ya, persetan dengan perasaan ini. For the nth time I made sure myself that this heart isn’t belong to you anymore. Tapi perasaan ini masih meneriakan namamu. Lalu aku harus apa? The distance is no longer the devil, harusnya justru membantu bukan? Seakan menjadi malaikat yang berkata : I’ll help you to get over him. Tapi ia gagal. Malas sekali harus mengatakan bahwa ia kalah dari Eros si pembawa panah cinta itu ketika dulu. Yang membuatku sampai sekarang ini masih bisa merasakan sisa-sisa panahnya yang sudah susah payah kuhancurkan. Just not as deep as this Eros! Susah sekali mencabutnya, kau tahu? Dan setelah entah bulan ke berapa-well, untuk apa aku menghitungnya?- aku masih dan masih saja merasakannya, meneriakan namamu, berdebar setiap kali melihat namamu. Shame on you and your stupid arrow, Eros, kenapa efeknya masih terasa dan masih luar biasa sulit untuk dikontrol? Oh ayolah, aku bahkan tidak tahu apakah dia disana sudah terbebas dari perasaan ini atau bahkan sudah terjebak lagi dengan yang lain? Poor you my dear heart, I really pity you.
And yeah, there’s him. Seseorang yang dari awal memang terlihat lebih di mata ini. Tidak, ia tidak lebih tampan darimu. Tapi ia lebih menarik dari siapapun. You know, that kind of lovely nextdoor boy. Charming, super kind, and all time smiling. Well, tidak ada yang bisa diingat darinya kecuali senyumnya. Dan matanya. Dan perilakunya yang luar biasa patut dipuji. Dan cara bicaranya yang sopan. Dan keramahannya. Dan bagaimana ia tertawa. Ok, I seems like someone who cant see anything but him. Tapi, ya, dia memang seperti itu. Jadi jangan salahkan mata ini jika sering mencarinya disetiap sudut, setiap waktu. He’s just undeniable, you know? Oh yeah, He’s friend of mine-not gonna tell you more- and I think he’s one of a kind? Atau mungkin tidak, tapi karena aku baru bertemu yang seperti ini untuk pertama kalinya so I says so. Tidak pernah sekalipun mengenal yang seperti ini sebelumnya. Apa ya? Dibalik semua kelebihannya itu dia sangat sangat taat. Like the name of God running through his veins. Dan kau hanya perlu berlari ke masjid jika ingin mencarinya, sedang mengaji mungkin? Ya dia seperti itu. Dan dia yang seperti itulah yang membuatku bertanya pada diriku sendiri. Aku tidak akan cukup baik dengannya. Come on, I’m not even his nails for sure. Dia yang sangat luar biasa seperti itu dan aku… well, you know who I am.
Dan sejauh ini aku tau betapa berbedanya kamu dan dia. Kamu yang hampir tak memiliki ekspresi dan ia yang senang sekali tersenyum. Kamu yang beribadah di hari Minggu dan dia yang harus menjalankan 5 waktu setiap harinya. Kamu yang penuh candaan tak masuk akal dan dia yang dengan senang hati tertawa renyah, kamu yang yang selalu menjadi kamu kapanpun dan dimanapun dan dia yang selalu menjadi dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.  Kamu tau, diantara perbedaan perbedaan kalian aku masih merasakan kalian adalah dua orang yang menarik. I just found you both one of a kind for me. Hanya ada satu orang semenarik kamu, yaitu dia. Dan hanya ada satu orang secharming dia, yaitu kamu. You got this one, rite? 
 And last night, I just tought, maybe, just maybe, I like him for real. Am I really like him? aku terus bertanya pada diriku. Tapi tak pernah bisa terjawab. Tentu aku sering mencarinya, menanyakan keberadaannya and smiling ear-to-ear when I look at him. Tapi anehnya hati ini tidak bergetar. Belum sedikitpun bergetar. Aku terus mencarinya, masih terus menanyakannya dan selalu tersenyum ketika akhirnya menemukannya.  Do you know,  while I always doing that, this heart is still shouting your name, silly. Dan itulah mengapa kamu sedikit lebih special darinya.
[ Read More ]

Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar


err... it take a lil' bit longer than usual for me to be back here, okay pardon, but its already one year!
anyway, glad to be here again~
and soooo, I'm turned to be a collegian girl! which mean, Hello busy time!
dan setelah perjalanan panjang untuk masuk ke dunia perkuliahan, akhirnya diterima disalah satu univ negeri.
FAKULTAS BIOLOGI.
okay, sekali lagi, FAKULTAS BIOLOGI!!!!!
yang bermakna : saya mau jadi apaaa?
bukan, bukan berarti anak biologi ngga bakal punya kerjaan ya. well, kita adalah calon calon ilmuwan muda negeri, jadi jangan salah.
tapi, yang jadi permasalahan adalah : emang lo bisa biologi?
ah, seharusnya dari awal saya ngga pernah daftar IPA. karena saya ngerasa ngga bakal berteman baik dengan fisika dan kimia, jadi saya putuskan ambil biologi.
dan well, ini tidak semudah yang saya bayangin T.T
biologi lebih rumit dari apa yang pernah saya bayangin. ngga cuma sekedar ngeliatin makhluk makhluk aneh aja-God, pardon me this time- tapi ternyata sampe ngitung juga! bagus. lengkap. perfect. terjun aja ke jurang, ay.
tapi berhubung saya tidak pantang menyerah-yuuck- jadilah saya tetap bertahan.
tapi ya, ngeluh sih bukannya jarang. hanya berusaha menghadapi sesuatu semisal lagi tanggal merah yang seharusnya berguling-guling ria di kasur, malah jadi guling guling otak karena harus kuliah. yeeeah! longlive ibu dekan dan pak dosen!
daaaan diluar semua itu, banyak hal yang terjadi!
dari mulai lulus dari sekolah, brea*up (okay,what? perlu banget sensornya?), dan punya banyak teman teman baru.
anyway, masuk ke biologi ngga berarti saya nyerah buat jadi seorang jurnalis yaaa,
as someone said that I should be a journalist who knows about biology. dan okay, mungkin dia berpikir saya harus jadi jurnalis di majalah bonsai dan semacamnya. but, well said!
so its about 3 in the morning and I have such a routine class at like 8, well I need to sleep. a lot.
oh well, Hello?
[ Read More ]

Posted by Annisa Ayu B - - 2 komentar

Tik.. tik…tik.. dentingan jam terasa begitu nyaring di ruangan sunyi ini. Jam antic nan klasik yang terpajang manis di dinding berlapis cat putih gading itu sudah menunjukan pukul satu malam lewat tiga puluh menit. Namun tanda tanda aku akan terlelap sama sekali belum hadir. Mata ini seakan tak pernah lelah mengintip dunia dari balik jendela bertirai hitam itu. Pikiranku melemah, sudah terlalu lelah untuk tetap terjaga sedini ini. Namun, entah dari mana datangnya, bayanganmu pasti selalu ada. Selalu saja hadir di sini, di pikiran ini. Seakan akan kau benar nyata. Padahal semuanya hanya delusi semata. Apakah aku segila itu karenamu? Hingga tak bisa sekedar memejamkan mataku hanya karena kau tak pernah hilang dari pikiranku? Tolong, hentikan ini semua.
                Waktu berlalu sangat cepat. Sadarkah kau? Namun, silih bergantinya malam dan siang pun tak mampu menghapus dirimu. Bahkan di pagi hari yang luar biasa mendung ini pun kau masih setia di pikiranku. Dan aku, bertahan tanpa terlelap menunggu matahari muncul di timur, dan ternyata justru disambut kumpulan awan kelabu yang menggantikan matahari. Sebentar lagi hujan. Hujan akan menambah buruk hari ini. Setahun lalu, mungkin aku adalah orang yang paling antusias ketika hujan akan datang. Namun, ketika kau mengucapkan kalimat yang membuat hatiku mencelos, aku tak bisa lagi mencintai hujan. Terlalu pedih. Kala itu, hujan turun seakan menemani cairan bening yang tak hentinya mengalir dari pelupuk mataku. Dan kau tahu, itu luar biasa rasanya.
                Ah, hujan. Benar saja. Bulir bulir hujan menghiasi jendela kamarku, memburamkan semua pandanganku ke luar jendela. Ah, hujan tak pernah terlihat semenyedihkan ini untukku. ini yang terburuk. Ingatkah kau, dulu aku sering berkata padamu setiap hujan bahwa aku sangat mencintai hujan. Dan kau, dengan herannya bertanya mengapa aku mencintai hujan. lalu aku menjawab, karena aku menunggu petir yang datang bersama dengan hujan. Kau semakin memandangku heran dan bertanya lagi, mengapa aku menunggu petir. Dan aku hanya mengulum senyum sambil berkata, karena aku juga mencintai petir, mereka terlihat gagah. Kau mengakhirinya dengan mencubit hidungku sambil tersenyum sedikit takjub sedikit tak percaya. Ya, memori itu. Kenangan itu kini berputar kembali di pikiranku. Great job, rainy. kau membangkitkan masa masa indah itu.
                Aku sadar. Kini itu semua tak ada lagi. Tak ada lagi senyum takjubmu ketika aku bercerita tentang hujan berama petirnya, dan bagaimana pelangi beraneka warna itu selalu menjadi yang terbaik yang ditunggu semua orang. Ya, tak ada lagi. Dan aku merindukan itu.
                Hujan dan kelabu diluar sana sepertinya ingin sekali di musnahkan. Besar sekali sehingga aku sempat berpikir bahwa ini badai. Tapi anehnya, tak ada petir yang menggelegar itu. Hujan seakan kehilangan partnernya. Terasa begitu sepi, begitu hampa. Hanya suara hujan yang memenuhi. Sangat hambar. Hujan juga tak pernah terasa se-ditidak inginkan seperti ini. Keep arguing. Terus berkata bahwa ini terlihat menyedihkan, itu terlihat sangat menyedihkan, Padahal hatiku terus berkata bahwa aku menyedihkan. Ya, aku menyedihkan. Lebih menyedihkan dari hujan yang kehilangan partner abadinya.
                Dan, itu semua dikarenakan rasa rinduku yang begitu besar padamu. Aku menyedihkan ketika aku memutar kembali masa masa kita, dan menyadari bahwa itu telah berlalu. Aku menyedihkan ketika aku sering sekali berdelusi bahwa kau masih disampingku, padahal kenyataannya engkau tak teridentifikasi berada dimana. Aku menyedihkan ketika aku masih saja terus menangis bersama hujan, mengingat-ingat hari itu. Aku menyedihkan ketika namamu masih saja terucap di setiap hela do’aku, dan ketika aku menyadarinya, aku tetap tak ingin berhenti. Aku menyedihkan karena aku masih saja merindukanmu..
[ Read More ]

Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar


Senja, akhirnya tiba di padang dandelion yang membentang luas itu. Kilatan jingga menyinari  benih benih bunga yang terbang tertiup angin. Dan disana, mereka berdua, dengan jarak yang terpisah lumayan jauh. Terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, hingga tak menyadari bahwa dari sini lah, kisah mereka dimulai.
               
When it started

Klee memandang senja dari tengah padang favoritnya. Rambutnya melambai tertiup angin khas musim gugur, beterbangan bersamaan dengan benih-benih dandelion yang tertiup angin.  Ia meraih setangkai dandelion yang berada didekatnya, lalu meniupnya dengan penuh kehati-hatian.
               
 “terbanglah yang jauh, cantik. Cepat tumbuh menjadi dandelion yang kuat”

Ia lalu tersenyum sembari memperhatikan benih-benih itu terbang menjauh. Menarik napas sangat panjang, sejenak untuk me-refresh pikirannya. Dan kemudian menatap langit luas yang kini tengah berganti menjadi langit malam. klee mencintai padang dandelion ini, sebagaimana ia mencintai hidupnya yang tak sesempurna kehidupan orang lain. Tapi ia bersyukur melihat kenyataan bahwa Tuhan mencintainya sehingga ia masih dibiarkan bernapas hingga saat ini.
               
 Padang Dandelion ini adalah segalanya bagi Klee, hidupnya, bahkan separuh jiwanya. Sejak mengenalnya sedari ia kecil, klee jadi begitu terobsesi dengan Dandelion, khususnya yang ada pada padang ini. Setiap hari ia selalu datang kemari, entah untuk beristirahat, atau hanya sekedar untuk meniup dandelion yang menjadi favoritnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, dan seiring perkembangannya menjadi perempuan cantik, padang ini lebih sering menjadi alter egonya. Tempat seluruh curahan perasaannya. Tempat untuk menenangkan jiwanya dari segala masalah yang ia hadapi. Satu-satunya hal yang tidak pernah berubah adalah kebiasaannya ketika meninggalkan padang ini yang selalu penuh senyuman, tak peduli kenyataan bahwa sejam sebelumnya ia menangis begitu keras disini, memaksa semua dandelion dan rerumputan mendengarkan segala keluh kesahnya.
                 
Dan, Dandelion sendiri mempunyai arti yang luar biasa mengagumkan menurut pandangan Klee. Dandelion putih, yang selalu menjadi favoritnya, adalah bunga yang sangat hebat. Terlihat sangat rapuh, namun ternyata justru yang terkuat. Klee heran sekali ketika menemukan setangkai dandelion yang tumbuh di tengah retakan jalan, ketika sedang menelusuri pinggiran kota. Bagaimana bisa ia tumbuh di tempat yang sangat jauh dan dengan kondisi yang sangat berbeda dari habitat aslinya? Dan ternyata ia baru mengerti bahwa dandelion bisa hidup dimana saja, tak mengenal habitat. Dan, klee sangat amat mengagumi siklus hidup dandelion yang terbilang lumayan singkat. Dari benih, tumbuh menjadi dandelion yang indah, lalu akhirnya terbang tertiup angin. Entah mengapa, Klee ingin sekali menjadi seperti itu, menjadi bagian dari mereka, terbang bebas tertiup angin dan jatuh disuatu tempat untuk menunbuhkan harapan baru. Ya, ia sangat ingin seperti itu.
               
 Klee menghela napas panjang ketika akhirnya hari mulai malam dan ia harus pulang ke rumah. Rasanya ia tak ingin hari-harinya di padang dandelion ini berakhir, saat senja mulai berganti malam. namun, toh ia harus tetap pulang. Dan tak mugkin ia menginap disini, terlalu dingin. Ia bisa terkena hipotermia dan keesokan harinya hanya menyisakan nama. Klee akhirnya mulai melangkah pulang setelah sebelumnya mengucapkan selamat malam pada teman-teman dandelionnya. Ia merogoh saku celana denimnya dan mengambil alat penerangan kecil, terlalu gelap untuk melihat jalan disekitar. Dan ketika ia menyorotkan lampu kecil itu di satu sudut, disanalah klee melihatnya, terpaku menatap langit hitam yang ditaburi ribuan kilau bintang. Tangan kirinya mengapit sebuah sketchbook, tangannya yang lain menggenggam sebuah pensil. Dengan sedikit ragu, klee akhirnya mendekatinya. Sedikit heran dengannya yang hanya diam memandangi langit, klee pun akhirnya mendongakkan kepalanya, melihat apa yang ia lihat.
              
  "indah..” tanpa sadar, klee berucap. Laki-laki disampingnya, tersenyum menatap klee yang masih memandangi langit malam. semenit berlalu, dan ia masih terus menatap klee. Seakan sadar sedang diperhatikan, klee lalu mengalihkan pandangan kepadanya.
               
 “oh,” gumam klee, sedikit terkejut sekaligus malu dengan apa yang baru saja ia lakukan

“maaf, siapa kau?” tanyanya sembari menatap orang yang terlihat sangat asing baginya. Laki-laki itu kembali tersenyum melihat klee,
                 
 “Natan” 

*****

lagi nyoba drabble nih. tapi lanjutannya gatau kapan selesai hahaha *jahat* 
ah, lagian ga ada yg baca ini yakaaaan. :D
[ Read More ]

Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar

yeaaah, its toooo late! I know.
after very long hibernation, finally I'm back with one not-so-interesting-post about my idiot-but-lovely-boy's birthday.
actually, dia ulang tahunnya bulan November kemaren, ini sih sayanya aja yang males buat ngepost. but, better late than nothing to display, rite? makanya disebut long hibernation.

ini singkat banget, video pertama yang saya buat nih *beruntunglah kau yonatan!* harusnya ada part 2 nya, tapi berhubung saya nggak sempet jadinya nggak selesai deh. bzzzz..

waktu dia ulang taun, saya yang megang kuenya terus dia niup lilinnya. and felt so unlucky cause there's no one did take picture -__-  jadi, yaaa, no picture.



ps : jangan ditanya kenapa suaranya kresek kresek, emang sengaja dibuat seperti itu kok

[ Read More ]

Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar

Paris, November 2012
            Hari ini hujan. Lagi – lagi. Aku hanya bisa memandangi kota paris yang basah dari kaca jendela flat-ku yang sedikit buram karena rintikan hujan yang membekas. Entah ini benar, atau hanya perasaanku saja yang sedang biru bahwa Eiffel tower yang berdiri di luar sana sepertinya tampak sedikit sayu diguyur hujan. Memang, ia masih menjulang di tengah kota Paris ini, masih terlihat megah dibanding apapun yang bisa ditemui di sini. Hanya saja, ia terlihat sedikit menyedihkan.
aku menghapus sisa sisa hujan di kaca -yang sebenarnya menjadi sia-sia karena hujan tak kunjung reda-  berusaha memperjelas pemandangan diluar. Orang-orang berlalu lalang dengan payung yang secara keseluruhan berwarna hitam. Setiap kendaraan yang melaju terlihat sangat berhati-hati, menurunkan kecepatan mereka agar tak tergelincir di jalan yang licin. Dan beberapa anak kecil terlihat sangat menikmati bermain di genangan air yang terbentuk di jalan.
awan berwarna kelabu. Tak ada cloudy si biru cerah. Tak ada sunny yang setia bersinar. Apakah ia sedang bermain bersama cloudy disuatu tempat? Entahlah, sekarang yang ada hanya gemuruh yang terlihat marah, dan Rainy yang senang bermain. Awal yang bagus untuk bulan November yang baru datang, eh?
             
Aku menunggunya. Entah sudah berapa lama ia tak memberi kabar. Apakah aku sudah terlupakan? Hanya setahun… dan secepat itukah aku dilupakan?
kupandangi lagi kota paris yang semakin basah dan Eiffel tower yang terlihat menyedihkan di tengah hujan. Tak ada lampu berwarna-warni yang mewarnai kota Paris. Tak ada kerlap kerlip yang memikat di tubuh Eiffel tower. Semua yang ada diluar sana didominasi warna hitam dan kelabu. Kota paris tak pernah telihat semenyedihkan ini.
          
  Jenuh. Kuputuskan untuk keluar dari flatku yang sangat menjemukan. Berjalan sendirian ditengah guyuran hujan. Tak kupedulikan Rainy yang sedang semangat hari ini. Aku terus berjalan. Tanpa arah dan tujuan yang jelas. Hanya terus melangkah sesuai kehendak hatiku yang entah akan berakhir dimana.
 Udaranya terlihat dingin, orang – orang yang berlalu lalang semuanya membungkus tubuh mereka rapat-rapat. Tapi aku tak merasakannya. Aku tak merasakan dingin itu. Apa itu karena aku sudah terlalu dingin? Padahal, sudah sedari tadi aku berjalan ditengah hujan. Tapi aku tak merasakan apa-apa.
aku berhenti didepan satu toko mainan. Melihat ke dalamnya. Terlihat seorang anak kecil yang merengek meminta boneka kepada sang ibu. Aku tersenyum. Teringat saat dulu aku seperti itu juga pada ibuku. Dan ibuku pun melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan ibu itu, tidak tega lalu membawa bonekanya ke kasir dan membelikannya untuk sang anak. Jika ada pepatah yang bilang bahwa kasih ibu sepanjang masa, itu benar keadaannya.
           
 Aku masih berjalan. Melintasi sebuah taman yang kosong. Kupandangi sebentar taman itu. Bangku taman yang sudah usang, beberapa ayunan yang berwarna merah, kolam pasir yang menjadi favorite, dan perosotan yang sudah tak licin lagi. Dulu, aku dan ayahku sering pergi kesini. Entah itu untuk berpiknik atau hanya untuk bermain. Aku juga dulu sering lari ke taman ini ketika sedang menangis. Dan di taman ini jugalah aku mengenal sunny, cloudy, dan Rainy. Yang setiap harinya menjagaku. Taman ini punya segudang senyuman dan tangisan.
           
 Masih ditengah guyuran hujan yang semakin deras, aku terus berjalan. orang-orang memilih berhenti dan mencari tempat teduh, menanggalkan payung mereka. Tapi aku tidak. Aku masih melanjutkan berjalan. yang sekarang kulihat adalah Toko buku tua yang dulu menjadi tempat favoritku berikutnya. Debu yang mengepul, dan bau khas dari sebuah buku di toko ini sudah menempel dalam diriku. Pandanganku menyusup melalui kaca transparan usang yang bisa membuat semua mata melihat keadaan di dalam.  disudut ruangan toko, sedang terlelap seorang kakek. Ah, syukurlah beliau masih setia menjaga toko buku ini. Entah dimana lagi bisa kudapatkan toko buku yang sudah berdiri hampir satu abad selain di toko yang punya sejarah luar biasa ini.
           
 Eiffel Tower kini tepat berada didepanku. Terlihat megah luar biasa, Namun kuyup tersiram hujan sepanjang minggu. Warna coklat keemasan mempertegas kemegahannya. Tak pernah pudar walaupun tertimpa cahaya dan hujan sekian abad. Tidak ada yang salah Eiffel tower pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Karena, ya, semua yang ada di menara cinta ini adalah miracle. Menara ini, mungkin sudah menjadi saksi cinta dari ribuan pasangan. Begitupun juga aku. Dulu, aku dan dia sering menghabiskan waktu disini. Melukis. Aku sangat suka melukis. Dan menara ini adalah objek favoriteku. Entah mengapa, semua yang terlihat disekitar menara ini jadi terasa indah..
           
 Tapi, kini semua terasa berbeda. Hujan yang mengguyur kota paris sepanjang minggu membuat Eiffel terlihat rapuh. Semua yang berada disini terlihat sama menyedihkannya dengan langit yang hanya berwarna kelabu, sama sekali tidak Nampak guratan biru cerah disana. Aku melihat sekeliling. Dan sepi. tak ada lagi orang yang berlalu lalang. Semuanya memilih berteduh di beberapa etalase. Aku hanya seorang diri, berdiri tepat didepan Eiffel yang menangis.
             
Dan seketika kulihat dia. Ah, bukan hanya dia. Tapi, dia bersama seorang gadis cantik berambut panjang yang lengannya terkait dengan Dia. Dalam balutan busana serba hitam, dan dengan payung yang berwarna hitam pula. Ternyata memang secepat itu aku dilupakan. Hanya selang setahun dan dia sudah berhasil mendapatkan bidadari lain. Sakit? Tentu. Menangis? Seandainya bisa aku pasti akan menangis sejadi-jadinya. Tapi, semuanya sudah tidak mungkin lagi.
            
 Aku masih memperhatikan Dia dengan perempuan itu. Mereka masuk ke sebuah toko bunga, yang dulunya juga adalah toko bunga favoritku. Tak berapa lama, mereka keluar dengan membawa sebuket bunga besar… bunga mawar ungu. Bunga favoritku. Mereka terus berjalan menembus hujan. Dan aku, mengikuti mereka..
             
Dengan dipayungi payung hitam mereka, dan diiringi derasnya hujan yang masih enggan untuk berhenti, mereka menuju ke sebuah pemakaman. Tunggu, siapa yang meninggal? Siapa yang dimakamkan disini? Mereka masuk ke area pemakaman semakin dalam, dan akhirnya berhenti disatu makam berwarna putih cerah yang sepertinya sangat kukenal. Dia meletakkan sebuket buanga tadi di atas makam itu. Ah, ternyata bunga itu untuk orang yang dimakamkan disini. Tapi, siapa yang dimakamkan disini? Aku mendongakan kepalaku untuk melihat Nama yang tertera di nisan putih itu.

“Klee Audrey Gamali”
             
Itu namaku….  
          
  Dia menatap makam putih itu –yang ternyata adalah makamku- dengan raut wajah penuh kesedihan.
            “Klee, hari ini tepat setahun kau pergi. Aku hanya ingin bilang bahwa aku mencintaimu, dan itu takkan bisa berubah. Hanya saja, aku harus tetap melanjutkan hidup. Dan aku memilihnya. Dia baik Klee.. kau juga pasti akan menyukainya. Kau harus ingat bahwa kau selalu punya tempat dihatiku. Aku yakin kau bahagia disana”
          
  Dan dia –bersama gadis itu- pergi..
          
  Aku mendongak menatap langit yang masih berwarna kelabu. Diseberang sana, Eiffel masih berdiri dengan gagahnya ditengah siraman hujan. Situasi yang sama dengan setahun yang lalu, saat kepergianku untuk selamanya…




[ Read More ]

Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar


Just found on tumblr!
is there a chance to do this list together with you? ;)
[ Read More ]