aku menghapus sisa sisa hujan di kaca -yang sebenarnya menjadi sia-sia karena hujan tak kunjung reda- berusaha memperjelas pemandangan diluar. Orang-orang berlalu lalang dengan payung yang secara keseluruhan berwarna hitam. Setiap kendaraan yang melaju terlihat sangat berhati-hati, menurunkan kecepatan mereka agar tak tergelincir di jalan yang licin. Dan beberapa anak kecil terlihat sangat menikmati bermain di genangan air yang terbentuk di jalan.
awan berwarna kelabu. Tak ada cloudy si biru cerah. Tak ada sunny yang setia bersinar. Apakah ia sedang bermain bersama cloudy disuatu tempat? Entahlah, sekarang yang ada hanya gemuruh yang terlihat marah, dan Rainy yang senang bermain. Awal yang bagus untuk bulan November yang baru datang, eh?
kupandangi lagi kota paris yang semakin basah dan Eiffel tower yang terlihat menyedihkan di tengah hujan. Tak ada lampu berwarna-warni yang mewarnai kota Paris. Tak ada kerlap kerlip yang memikat di tubuh Eiffel tower. Semua yang ada diluar sana didominasi warna hitam dan kelabu. Kota paris tak pernah telihat semenyedihkan ini.
Udaranya terlihat dingin, orang – orang yang berlalu lalang semuanya membungkus tubuh mereka rapat-rapat. Tapi aku tak merasakannya. Aku tak merasakan dingin itu. Apa itu karena aku sudah terlalu dingin? Padahal, sudah sedari tadi aku berjalan ditengah hujan. Tapi aku tak merasakan apa-apa.
aku berhenti didepan satu toko mainan. Melihat ke dalamnya. Terlihat seorang anak kecil yang merengek meminta boneka kepada sang ibu. Aku tersenyum. Teringat saat dulu aku seperti itu juga pada ibuku. Dan ibuku pun melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan ibu itu, tidak tega lalu membawa bonekanya ke kasir dan membelikannya untuk sang anak. Jika ada pepatah yang bilang bahwa kasih ibu sepanjang masa, itu benar keadaannya.

























