Senja, akhirnya tiba di padang dandelion yang membentang
luas itu. Kilatan jingga menyinari benih
benih bunga yang terbang tertiup angin. Dan disana, mereka berdua, dengan jarak
yang terpisah lumayan jauh. Terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, hingga tak
menyadari bahwa dari sini lah, kisah mereka dimulai.
When it started
Klee memandang senja dari tengah padang favoritnya.
Rambutnya melambai tertiup angin khas musim gugur, beterbangan bersamaan dengan
benih-benih dandelion yang tertiup angin.
Ia meraih setangkai dandelion yang berada didekatnya, lalu meniupnya
dengan penuh kehati-hatian.
“terbanglah
yang jauh, cantik. Cepat tumbuh menjadi dandelion yang kuat”
Ia lalu tersenyum sembari memperhatikan benih-benih itu
terbang menjauh. Menarik napas sangat panjang, sejenak untuk me-refresh pikirannya.
Dan kemudian menatap langit luas yang kini tengah berganti menjadi langit
malam. klee mencintai padang dandelion ini, sebagaimana ia mencintai hidupnya
yang tak sesempurna kehidupan orang lain. Tapi ia bersyukur melihat kenyataan
bahwa Tuhan mencintainya sehingga ia masih dibiarkan bernapas hingga saat ini.
Padang
Dandelion ini adalah segalanya bagi Klee, hidupnya, bahkan separuh jiwanya.
Sejak mengenalnya sedari ia kecil, klee jadi begitu terobsesi dengan Dandelion,
khususnya yang ada pada padang ini. Setiap hari ia selalu datang kemari, entah
untuk beristirahat, atau hanya sekedar untuk meniup dandelion yang menjadi
favoritnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, dan seiring perkembangannya
menjadi perempuan cantik, padang ini lebih sering menjadi alter egonya. Tempat
seluruh curahan perasaannya. Tempat untuk menenangkan jiwanya dari segala
masalah yang ia hadapi. Satu-satunya hal yang tidak pernah berubah adalah
kebiasaannya ketika meninggalkan padang ini yang selalu penuh senyuman, tak
peduli kenyataan bahwa sejam sebelumnya ia menangis begitu keras disini,
memaksa semua dandelion dan rerumputan mendengarkan segala keluh kesahnya.
Dan,
Dandelion sendiri mempunyai arti yang luar biasa mengagumkan menurut pandangan
Klee. Dandelion putih, yang selalu menjadi favoritnya, adalah bunga yang sangat
hebat. Terlihat sangat rapuh, namun ternyata justru yang terkuat. Klee heran
sekali ketika menemukan setangkai dandelion yang tumbuh di tengah retakan
jalan, ketika sedang menelusuri pinggiran kota. Bagaimana bisa ia tumbuh di
tempat yang sangat jauh dan dengan kondisi yang sangat berbeda dari habitat
aslinya? Dan ternyata ia baru mengerti bahwa dandelion bisa hidup dimana saja,
tak mengenal habitat. Dan, klee sangat amat mengagumi siklus hidup dandelion
yang terbilang lumayan singkat. Dari benih, tumbuh menjadi dandelion yang
indah, lalu akhirnya terbang tertiup angin. Entah mengapa, Klee ingin sekali
menjadi seperti itu, menjadi bagian dari mereka, terbang bebas tertiup angin
dan jatuh disuatu tempat untuk menunbuhkan harapan baru. Ya, ia sangat ingin
seperti itu.
Klee
menghela napas panjang ketika akhirnya hari mulai malam dan ia harus pulang ke
rumah. Rasanya ia tak ingin hari-harinya di padang dandelion ini berakhir, saat
senja mulai berganti malam. namun, toh ia harus tetap pulang. Dan tak mugkin ia
menginap disini, terlalu dingin. Ia bisa terkena hipotermia dan keesokan
harinya hanya menyisakan nama. Klee akhirnya mulai melangkah pulang setelah
sebelumnya mengucapkan selamat malam pada teman-teman dandelionnya. Ia merogoh
saku celana denimnya dan mengambil alat penerangan kecil, terlalu gelap untuk
melihat jalan disekitar. Dan ketika ia menyorotkan lampu kecil itu di satu
sudut, disanalah klee melihatnya, terpaku menatap langit hitam yang ditaburi
ribuan kilau bintang. Tangan kirinya mengapit sebuah sketchbook, tangannya yang
lain menggenggam sebuah pensil. Dengan sedikit ragu, klee akhirnya
mendekatinya. Sedikit heran dengannya yang hanya diam memandangi langit, klee
pun akhirnya mendongakkan kepalanya, melihat apa yang ia lihat.
"indah..”
tanpa sadar, klee berucap. Laki-laki disampingnya, tersenyum menatap klee yang
masih memandangi langit malam. semenit berlalu, dan ia masih terus menatap
klee. Seakan sadar sedang diperhatikan, klee lalu mengalihkan pandangan
kepadanya.
“oh,”
gumam klee, sedikit terkejut sekaligus malu dengan apa yang baru saja ia
lakukan
“maaf, siapa kau?” tanyanya sembari menatap
orang yang terlihat sangat asing baginya. Laki-laki
itu kembali tersenyum melihat klee,
“Natan”
*****
lagi nyoba drabble nih. tapi lanjutannya gatau kapan selesai hahaha *jahat*
ah, lagian ga ada yg baca ini yakaaaan. :D