This life is absolutely simple and absurd

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris ...

  • Category name clash

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

  • Test with enclosures

    Here's an mp3 file that was uploaded as an attachment: Juan Manuel Fangio by Yue And here's a link to an external mp3 file: Acclimate by General Fuzz Both are CC licensed. Lorem ...

  • Block quotes

    Some block quote tests: Here's a one line quote. This part isn't quoted. Here's a much longer quote: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. In dapibus. In pretium pede. Donec ...

Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar


Senja, akhirnya tiba di padang dandelion yang membentang luas itu. Kilatan jingga menyinari  benih benih bunga yang terbang tertiup angin. Dan disana, mereka berdua, dengan jarak yang terpisah lumayan jauh. Terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, hingga tak menyadari bahwa dari sini lah, kisah mereka dimulai.
               
When it started

Klee memandang senja dari tengah padang favoritnya. Rambutnya melambai tertiup angin khas musim gugur, beterbangan bersamaan dengan benih-benih dandelion yang tertiup angin.  Ia meraih setangkai dandelion yang berada didekatnya, lalu meniupnya dengan penuh kehati-hatian.
               
 “terbanglah yang jauh, cantik. Cepat tumbuh menjadi dandelion yang kuat”

Ia lalu tersenyum sembari memperhatikan benih-benih itu terbang menjauh. Menarik napas sangat panjang, sejenak untuk me-refresh pikirannya. Dan kemudian menatap langit luas yang kini tengah berganti menjadi langit malam. klee mencintai padang dandelion ini, sebagaimana ia mencintai hidupnya yang tak sesempurna kehidupan orang lain. Tapi ia bersyukur melihat kenyataan bahwa Tuhan mencintainya sehingga ia masih dibiarkan bernapas hingga saat ini.
               
 Padang Dandelion ini adalah segalanya bagi Klee, hidupnya, bahkan separuh jiwanya. Sejak mengenalnya sedari ia kecil, klee jadi begitu terobsesi dengan Dandelion, khususnya yang ada pada padang ini. Setiap hari ia selalu datang kemari, entah untuk beristirahat, atau hanya sekedar untuk meniup dandelion yang menjadi favoritnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, dan seiring perkembangannya menjadi perempuan cantik, padang ini lebih sering menjadi alter egonya. Tempat seluruh curahan perasaannya. Tempat untuk menenangkan jiwanya dari segala masalah yang ia hadapi. Satu-satunya hal yang tidak pernah berubah adalah kebiasaannya ketika meninggalkan padang ini yang selalu penuh senyuman, tak peduli kenyataan bahwa sejam sebelumnya ia menangis begitu keras disini, memaksa semua dandelion dan rerumputan mendengarkan segala keluh kesahnya.
                 
Dan, Dandelion sendiri mempunyai arti yang luar biasa mengagumkan menurut pandangan Klee. Dandelion putih, yang selalu menjadi favoritnya, adalah bunga yang sangat hebat. Terlihat sangat rapuh, namun ternyata justru yang terkuat. Klee heran sekali ketika menemukan setangkai dandelion yang tumbuh di tengah retakan jalan, ketika sedang menelusuri pinggiran kota. Bagaimana bisa ia tumbuh di tempat yang sangat jauh dan dengan kondisi yang sangat berbeda dari habitat aslinya? Dan ternyata ia baru mengerti bahwa dandelion bisa hidup dimana saja, tak mengenal habitat. Dan, klee sangat amat mengagumi siklus hidup dandelion yang terbilang lumayan singkat. Dari benih, tumbuh menjadi dandelion yang indah, lalu akhirnya terbang tertiup angin. Entah mengapa, Klee ingin sekali menjadi seperti itu, menjadi bagian dari mereka, terbang bebas tertiup angin dan jatuh disuatu tempat untuk menunbuhkan harapan baru. Ya, ia sangat ingin seperti itu.
               
 Klee menghela napas panjang ketika akhirnya hari mulai malam dan ia harus pulang ke rumah. Rasanya ia tak ingin hari-harinya di padang dandelion ini berakhir, saat senja mulai berganti malam. namun, toh ia harus tetap pulang. Dan tak mugkin ia menginap disini, terlalu dingin. Ia bisa terkena hipotermia dan keesokan harinya hanya menyisakan nama. Klee akhirnya mulai melangkah pulang setelah sebelumnya mengucapkan selamat malam pada teman-teman dandelionnya. Ia merogoh saku celana denimnya dan mengambil alat penerangan kecil, terlalu gelap untuk melihat jalan disekitar. Dan ketika ia menyorotkan lampu kecil itu di satu sudut, disanalah klee melihatnya, terpaku menatap langit hitam yang ditaburi ribuan kilau bintang. Tangan kirinya mengapit sebuah sketchbook, tangannya yang lain menggenggam sebuah pensil. Dengan sedikit ragu, klee akhirnya mendekatinya. Sedikit heran dengannya yang hanya diam memandangi langit, klee pun akhirnya mendongakkan kepalanya, melihat apa yang ia lihat.
              
  "indah..” tanpa sadar, klee berucap. Laki-laki disampingnya, tersenyum menatap klee yang masih memandangi langit malam. semenit berlalu, dan ia masih terus menatap klee. Seakan sadar sedang diperhatikan, klee lalu mengalihkan pandangan kepadanya.
               
 “oh,” gumam klee, sedikit terkejut sekaligus malu dengan apa yang baru saja ia lakukan

“maaf, siapa kau?” tanyanya sembari menatap orang yang terlihat sangat asing baginya. Laki-laki itu kembali tersenyum melihat klee,
                 
 “Natan” 

*****

lagi nyoba drabble nih. tapi lanjutannya gatau kapan selesai hahaha *jahat* 
ah, lagian ga ada yg baca ini yakaaaan. :D
[ Read More ]