This life is absolutely simple and absurd

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris ...

  • Category name clash

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

  • Test with enclosures

    Here's an mp3 file that was uploaded as an attachment: Juan Manuel Fangio by Yue And here's a link to an external mp3 file: Acclimate by General Fuzz Both are CC licensed. Lorem ...

  • Block quotes

    Some block quote tests: Here's a one line quote. This part isn't quoted. Here's a much longer quote: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. In dapibus. In pretium pede. Donec ...

Posted by Annisa Ayu B - - 2 komentar

Tik.. tik…tik.. dentingan jam terasa begitu nyaring di ruangan sunyi ini. Jam antic nan klasik yang terpajang manis di dinding berlapis cat putih gading itu sudah menunjukan pukul satu malam lewat tiga puluh menit. Namun tanda tanda aku akan terlelap sama sekali belum hadir. Mata ini seakan tak pernah lelah mengintip dunia dari balik jendela bertirai hitam itu. Pikiranku melemah, sudah terlalu lelah untuk tetap terjaga sedini ini. Namun, entah dari mana datangnya, bayanganmu pasti selalu ada. Selalu saja hadir di sini, di pikiran ini. Seakan akan kau benar nyata. Padahal semuanya hanya delusi semata. Apakah aku segila itu karenamu? Hingga tak bisa sekedar memejamkan mataku hanya karena kau tak pernah hilang dari pikiranku? Tolong, hentikan ini semua.
                Waktu berlalu sangat cepat. Sadarkah kau? Namun, silih bergantinya malam dan siang pun tak mampu menghapus dirimu. Bahkan di pagi hari yang luar biasa mendung ini pun kau masih setia di pikiranku. Dan aku, bertahan tanpa terlelap menunggu matahari muncul di timur, dan ternyata justru disambut kumpulan awan kelabu yang menggantikan matahari. Sebentar lagi hujan. Hujan akan menambah buruk hari ini. Setahun lalu, mungkin aku adalah orang yang paling antusias ketika hujan akan datang. Namun, ketika kau mengucapkan kalimat yang membuat hatiku mencelos, aku tak bisa lagi mencintai hujan. Terlalu pedih. Kala itu, hujan turun seakan menemani cairan bening yang tak hentinya mengalir dari pelupuk mataku. Dan kau tahu, itu luar biasa rasanya.
                Ah, hujan. Benar saja. Bulir bulir hujan menghiasi jendela kamarku, memburamkan semua pandanganku ke luar jendela. Ah, hujan tak pernah terlihat semenyedihkan ini untukku. ini yang terburuk. Ingatkah kau, dulu aku sering berkata padamu setiap hujan bahwa aku sangat mencintai hujan. Dan kau, dengan herannya bertanya mengapa aku mencintai hujan. lalu aku menjawab, karena aku menunggu petir yang datang bersama dengan hujan. Kau semakin memandangku heran dan bertanya lagi, mengapa aku menunggu petir. Dan aku hanya mengulum senyum sambil berkata, karena aku juga mencintai petir, mereka terlihat gagah. Kau mengakhirinya dengan mencubit hidungku sambil tersenyum sedikit takjub sedikit tak percaya. Ya, memori itu. Kenangan itu kini berputar kembali di pikiranku. Great job, rainy. kau membangkitkan masa masa indah itu.
                Aku sadar. Kini itu semua tak ada lagi. Tak ada lagi senyum takjubmu ketika aku bercerita tentang hujan berama petirnya, dan bagaimana pelangi beraneka warna itu selalu menjadi yang terbaik yang ditunggu semua orang. Ya, tak ada lagi. Dan aku merindukan itu.
                Hujan dan kelabu diluar sana sepertinya ingin sekali di musnahkan. Besar sekali sehingga aku sempat berpikir bahwa ini badai. Tapi anehnya, tak ada petir yang menggelegar itu. Hujan seakan kehilangan partnernya. Terasa begitu sepi, begitu hampa. Hanya suara hujan yang memenuhi. Sangat hambar. Hujan juga tak pernah terasa se-ditidak inginkan seperti ini. Keep arguing. Terus berkata bahwa ini terlihat menyedihkan, itu terlihat sangat menyedihkan, Padahal hatiku terus berkata bahwa aku menyedihkan. Ya, aku menyedihkan. Lebih menyedihkan dari hujan yang kehilangan partner abadinya.
                Dan, itu semua dikarenakan rasa rinduku yang begitu besar padamu. Aku menyedihkan ketika aku memutar kembali masa masa kita, dan menyadari bahwa itu telah berlalu. Aku menyedihkan ketika aku sering sekali berdelusi bahwa kau masih disampingku, padahal kenyataannya engkau tak teridentifikasi berada dimana. Aku menyedihkan ketika aku masih saja terus menangis bersama hujan, mengingat-ingat hari itu. Aku menyedihkan ketika namamu masih saja terucap di setiap hela do’aku, dan ketika aku menyadarinya, aku tetap tak ingin berhenti. Aku menyedihkan karena aku masih saja merindukanmu..
[ Read More ]