This life is absolutely simple and absurd

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
Posted by Annisa Ayu B - - 0 komentar

Paris, November 2012

            Hari ini hujan. Lagi – lagi. Aku hanya bisa memandangi kota paris yang basah dari kaca jendela flat-ku yang sedikit buram karena rintikan hujan yang membekas. Entah ini benar, atau hanya perasaanku saja yang sedang biru bahwa Eiffel tower yang berdiri di luar sana sepertinya tampak sedikit sayu diguyur hujan. Memang, ia masih menjulang di tengah kota Paris ini, masih terlihat megah dibanding apapun yang bisa ditemui di sini. Hanya saja, ia terlihat sedikit menyedihkan.
aku menghapus sisa sisa hujan di kaca -yang sebenarnya menjadi sia-sia karena hujan tak kunjung reda-  berusaha memperjelas pemandangan diluar. Orang-orang berlalu lalang dengan payung yang secara keseluruhan berwarna hitam. Setiap kendaraan yang melaju terlihat sangat berhati-hati, menurunkan kecepatan mereka agar tak tergelincir di jalan yang licin. Dan beberapa anak kecil terlihat sangat menikmati bermain di genangan air yang terbentuk di jalan.
awan berwarna kelabu. Tak ada cloudy si biru cerah. Tak ada sunny yang setia bersinar. Apakah ia sedang bermain bersama cloudy disuatu tempat? Entahlah, sekarang yang ada hanya gemuruh yang terlihat marah, dan Rainy yang senang bermain. Awal yang bagus untuk bulan November yang baru datang, eh?
             
Aku menunggunya. Entah sudah berapa lama ia tak memberi kabar. Apakah aku sudah terlupakan? Hanya setahun… dan secepat itukah aku dilupakan?
kupandangi lagi kota paris yang semakin basah dan Eiffel tower yang terlihat menyedihkan di tengah hujan. Tak ada lampu berwarna-warni yang mewarnai kota Paris. Tak ada kerlap kerlip yang memikat di tubuh Eiffel tower. Semua yang ada diluar sana didominasi warna hitam dan kelabu. Kota paris tak pernah telihat semenyedihkan ini.
          
  Jenuh. Kuputuskan untuk keluar dari flatku yang sangat menjemukan. Berjalan sendirian ditengah guyuran hujan. Tak kupedulikan Rainy yang sedang semangat hari ini. Aku terus berjalan. Tanpa arah dan tujuan yang jelas. Hanya terus melangkah sesuai kehendak hatiku yang entah akan berakhir dimana.
 Udaranya terlihat dingin, orang – orang yang berlalu lalang semuanya membungkus tubuh mereka rapat-rapat. Tapi aku tak merasakannya. Aku tak merasakan dingin itu. Apa itu karena aku sudah terlalu dingin? Padahal, sudah sedari tadi aku berjalan ditengah hujan. Tapi aku tak merasakan apa-apa.
aku berhenti didepan satu toko mainan. Melihat ke dalamnya. Terlihat seorang anak kecil yang merengek meminta boneka kepada sang ibu. Aku tersenyum. Teringat saat dulu aku seperti itu juga pada ibuku. Dan ibuku pun melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan ibu itu, tidak tega lalu membawa bonekanya ke kasir dan membelikannya untuk sang anak. Jika ada pepatah yang bilang bahwa kasih ibu sepanjang masa, itu benar keadaannya.
           
 Aku masih berjalan. Melintasi sebuah taman yang kosong. Kupandangi sebentar taman itu. Bangku taman yang sudah usang, beberapa ayunan yang berwarna merah, kolam pasir yang menjadi favorite, dan perosotan yang sudah tak licin lagi. Dulu, aku dan ayahku sering pergi kesini. Entah itu untuk berpiknik atau hanya untuk bermain. Aku juga dulu sering lari ke taman ini ketika sedang menangis. Dan di taman ini jugalah aku mengenal sunny, cloudy, dan Rainy. Yang setiap harinya menjagaku. Taman ini punya segudang senyuman dan tangisan.
           
 Masih ditengah guyuran hujan yang semakin deras, aku terus berjalan. orang-orang memilih berhenti dan mencari tempat teduh, menanggalkan payung mereka. Tapi aku tidak. Aku masih melanjutkan berjalan. yang sekarang kulihat adalah Toko buku tua yang dulu menjadi tempat favoritku berikutnya. Debu yang mengepul, dan bau khas dari sebuah buku di toko ini sudah menempel dalam diriku. Pandanganku menyusup melalui kaca transparan usang yang bisa membuat semua mata melihat keadaan di dalam.  disudut ruangan toko, sedang terlelap seorang kakek. Ah, syukurlah beliau masih setia menjaga toko buku ini. Entah dimana lagi bisa kudapatkan toko buku yang sudah berdiri hampir satu abad selain di toko yang punya sejarah luar biasa ini.
           
 Eiffel Tower kini tepat berada didepanku. Terlihat megah luar biasa, Namun kuyup tersiram hujan sepanjang minggu. Warna coklat keemasan mempertegas kemegahannya. Tak pernah pudar walaupun tertimpa cahaya dan hujan sekian abad. Tidak ada yang salah Eiffel tower pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Karena, ya, semua yang ada di menara cinta ini adalah miracle. Menara ini, mungkin sudah menjadi saksi cinta dari ribuan pasangan. Begitupun juga aku. Dulu, aku dan dia sering menghabiskan waktu disini. Melukis. Aku sangat suka melukis. Dan menara ini adalah objek favoriteku. Entah mengapa, semua yang terlihat disekitar menara ini jadi terasa indah..
           
 Tapi, kini semua terasa berbeda. Hujan yang mengguyur kota paris sepanjang minggu membuat Eiffel terlihat rapuh. Semua yang berada disini terlihat sama menyedihkannya dengan langit yang hanya berwarna kelabu, sama sekali tidak Nampak guratan biru cerah disana. Aku melihat sekeliling. Dan sepi. tak ada lagi orang yang berlalu lalang. Semuanya memilih berteduh di beberapa etalase. Aku hanya seorang diri, berdiri tepat didepan Eiffel yang menangis.
             
Dan seketika kulihat dia. Ah, bukan hanya dia. Tapi, dia bersama seorang gadis cantik berambut panjang yang lengannya terkait dengan Dia. Dalam balutan busana serba hitam, dan dengan payung yang berwarna hitam pula. Ternyata memang secepat itu aku dilupakan. Hanya selang setahun dan dia sudah berhasil mendapatkan bidadari lain. Sakit? Tentu. Menangis? Seandainya bisa aku pasti akan menangis sejadi-jadinya. Tapi, semuanya sudah tidak mungkin lagi.
            
 Aku masih memperhatikan Dia dengan perempuan itu. Mereka masuk ke sebuah toko bunga, yang dulunya juga adalah toko bunga favoritku. Tak berapa lama, mereka keluar dengan membawa sebuket bunga besar… bunga mawar ungu. Bunga favoritku. Mereka terus berjalan menembus hujan. Dan aku, mengikuti mereka..
             
Dengan dipayungi payung hitam mereka, dan diiringi derasnya hujan yang masih enggan untuk berhenti, mereka menuju ke sebuah pemakaman. Tunggu, siapa yang meninggal? Siapa yang dimakamkan disini? Mereka masuk ke area pemakaman semakin dalam, dan akhirnya berhenti disatu makam berwarna putih cerah yang sepertinya sangat kukenal. Dia meletakkan sebuket buanga tadi di atas makam itu. Ah, ternyata bunga itu untuk orang yang dimakamkan disini. Tapi, siapa yang dimakamkan disini? Aku mendongakan kepalaku untuk melihat Nama yang tertera di nisan putih itu.

“Klee Audrey Gamali”
             
Itu namaku….  
          
  Dia menatap makam putih itu –yang ternyata adalah makamku- dengan raut wajah penuh kesedihan.
            “Klee, hari ini tepat setahun kau pergi. Aku hanya ingin bilang bahwa aku mencintaimu, dan itu takkan bisa berubah. Hanya saja, aku harus tetap melanjutkan hidup. Dan aku memilihnya. Dia baik Klee.. kau juga pasti akan menyukainya. Kau harus ingat bahwa kau selalu punya tempat dihatiku. Aku yakin kau bahagia disana”
          
  Dan dia –bersama gadis itu- pergi..
          
  Aku mendongak menatap langit yang masih berwarna kelabu. Diseberang sana, Eiffel masih berdiri dengan gagahnya ditengah siraman hujan. Situasi yang sama dengan setahun yang lalu, saat kepergianku untuk selamanya…




Leave a Reply