Paris,
November 2012
Hari ini hujan. Lagi – lagi. Aku
hanya bisa memandangi kota paris yang basah dari kaca jendela flat-ku yang
sedikit buram karena rintikan hujan yang membekas. Entah ini benar, atau hanya
perasaanku saja yang sedang biru bahwa Eiffel tower yang berdiri di luar sana
sepertinya tampak sedikit sayu diguyur hujan. Memang, ia masih menjulang di
tengah kota Paris ini, masih terlihat megah dibanding apapun yang bisa ditemui
di sini. Hanya saja, ia terlihat sedikit menyedihkan.
aku menghapus sisa sisa hujan di kaca -yang sebenarnya menjadi sia-sia karena hujan tak kunjung reda- berusaha memperjelas pemandangan diluar. Orang-orang berlalu lalang dengan payung yang secara keseluruhan berwarna hitam. Setiap kendaraan yang melaju terlihat sangat berhati-hati, menurunkan kecepatan mereka agar tak tergelincir di jalan yang licin. Dan beberapa anak kecil terlihat sangat menikmati bermain di genangan air yang terbentuk di jalan.
awan berwarna kelabu. Tak ada cloudy si biru cerah. Tak ada sunny yang setia bersinar. Apakah ia sedang bermain bersama cloudy disuatu tempat? Entahlah, sekarang yang ada hanya gemuruh yang terlihat marah, dan Rainy yang senang bermain. Awal yang bagus untuk bulan November yang baru datang, eh?
aku menghapus sisa sisa hujan di kaca -yang sebenarnya menjadi sia-sia karena hujan tak kunjung reda- berusaha memperjelas pemandangan diluar. Orang-orang berlalu lalang dengan payung yang secara keseluruhan berwarna hitam. Setiap kendaraan yang melaju terlihat sangat berhati-hati, menurunkan kecepatan mereka agar tak tergelincir di jalan yang licin. Dan beberapa anak kecil terlihat sangat menikmati bermain di genangan air yang terbentuk di jalan.
awan berwarna kelabu. Tak ada cloudy si biru cerah. Tak ada sunny yang setia bersinar. Apakah ia sedang bermain bersama cloudy disuatu tempat? Entahlah, sekarang yang ada hanya gemuruh yang terlihat marah, dan Rainy yang senang bermain. Awal yang bagus untuk bulan November yang baru datang, eh?
Aku menunggunya. Entah sudah berapa
lama ia tak memberi kabar. Apakah aku sudah terlupakan? Hanya setahun… dan
secepat itukah aku dilupakan?
kupandangi lagi kota paris yang semakin basah dan Eiffel tower yang terlihat menyedihkan di tengah hujan. Tak ada lampu berwarna-warni yang mewarnai kota Paris. Tak ada kerlap kerlip yang memikat di tubuh Eiffel tower. Semua yang ada diluar sana didominasi warna hitam dan kelabu. Kota paris tak pernah telihat semenyedihkan ini.
kupandangi lagi kota paris yang semakin basah dan Eiffel tower yang terlihat menyedihkan di tengah hujan. Tak ada lampu berwarna-warni yang mewarnai kota Paris. Tak ada kerlap kerlip yang memikat di tubuh Eiffel tower. Semua yang ada diluar sana didominasi warna hitam dan kelabu. Kota paris tak pernah telihat semenyedihkan ini.
Jenuh. Kuputuskan untuk keluar dari
flatku yang sangat menjemukan. Berjalan sendirian ditengah guyuran hujan. Tak
kupedulikan Rainy yang sedang semangat hari ini. Aku terus berjalan. Tanpa arah
dan tujuan yang jelas. Hanya terus melangkah sesuai kehendak hatiku yang entah
akan berakhir dimana.
Udaranya terlihat dingin, orang – orang yang berlalu lalang semuanya membungkus tubuh mereka rapat-rapat. Tapi aku tak merasakannya. Aku tak merasakan dingin itu. Apa itu karena aku sudah terlalu dingin? Padahal, sudah sedari tadi aku berjalan ditengah hujan. Tapi aku tak merasakan apa-apa.
aku berhenti didepan satu toko mainan. Melihat ke dalamnya. Terlihat seorang anak kecil yang merengek meminta boneka kepada sang ibu. Aku tersenyum. Teringat saat dulu aku seperti itu juga pada ibuku. Dan ibuku pun melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan ibu itu, tidak tega lalu membawa bonekanya ke kasir dan membelikannya untuk sang anak. Jika ada pepatah yang bilang bahwa kasih ibu sepanjang masa, itu benar keadaannya.
Udaranya terlihat dingin, orang – orang yang berlalu lalang semuanya membungkus tubuh mereka rapat-rapat. Tapi aku tak merasakannya. Aku tak merasakan dingin itu. Apa itu karena aku sudah terlalu dingin? Padahal, sudah sedari tadi aku berjalan ditengah hujan. Tapi aku tak merasakan apa-apa.
aku berhenti didepan satu toko mainan. Melihat ke dalamnya. Terlihat seorang anak kecil yang merengek meminta boneka kepada sang ibu. Aku tersenyum. Teringat saat dulu aku seperti itu juga pada ibuku. Dan ibuku pun melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan ibu itu, tidak tega lalu membawa bonekanya ke kasir dan membelikannya untuk sang anak. Jika ada pepatah yang bilang bahwa kasih ibu sepanjang masa, itu benar keadaannya.
Aku masih berjalan. Melintasi sebuah
taman yang kosong. Kupandangi sebentar taman itu. Bangku taman yang sudah
usang, beberapa ayunan yang berwarna merah, kolam pasir yang menjadi favorite,
dan perosotan yang sudah tak licin lagi. Dulu, aku dan ayahku sering pergi
kesini. Entah itu untuk berpiknik atau hanya untuk bermain. Aku juga dulu
sering lari ke taman ini ketika sedang menangis. Dan di taman ini jugalah aku
mengenal sunny, cloudy, dan Rainy. Yang setiap harinya menjagaku. Taman ini
punya segudang senyuman dan tangisan.
Masih ditengah guyuran hujan yang
semakin deras, aku terus berjalan. orang-orang memilih berhenti dan mencari
tempat teduh, menanggalkan payung mereka. Tapi aku tidak. Aku masih melanjutkan
berjalan. yang sekarang kulihat adalah Toko buku tua yang dulu menjadi tempat
favoritku berikutnya. Debu yang mengepul, dan bau khas dari sebuah buku di toko
ini sudah menempel dalam diriku. Pandanganku menyusup melalui kaca transparan
usang yang bisa membuat semua mata melihat keadaan di dalam. disudut ruangan toko, sedang terlelap seorang
kakek. Ah, syukurlah beliau masih setia menjaga toko buku ini. Entah dimana
lagi bisa kudapatkan toko buku yang sudah berdiri hampir satu abad selain di
toko yang punya sejarah luar biasa ini.
Eiffel Tower kini tepat berada
didepanku. Terlihat megah luar biasa, Namun kuyup tersiram hujan sepanjang
minggu. Warna coklat keemasan mempertegas kemegahannya. Tak pernah pudar
walaupun tertimpa cahaya dan hujan sekian abad. Tidak ada yang salah Eiffel tower
pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Karena, ya, semua yang ada di
menara cinta ini adalah miracle. Menara ini, mungkin sudah menjadi saksi cinta
dari ribuan pasangan. Begitupun juga aku. Dulu, aku dan dia sering menghabiskan
waktu disini. Melukis. Aku sangat suka melukis. Dan menara ini adalah objek
favoriteku. Entah mengapa, semua yang terlihat disekitar menara ini jadi terasa
indah..
Tapi, kini semua terasa berbeda. Hujan
yang mengguyur kota paris sepanjang minggu membuat Eiffel terlihat rapuh. Semua
yang berada disini terlihat sama menyedihkannya dengan langit yang hanya
berwarna kelabu, sama sekali tidak Nampak guratan biru cerah disana. Aku melihat
sekeliling. Dan sepi. tak ada lagi orang yang berlalu lalang. Semuanya memilih
berteduh di beberapa etalase. Aku hanya seorang diri, berdiri tepat didepan Eiffel
yang menangis.
Dan seketika kulihat dia. Ah, bukan
hanya dia. Tapi, dia bersama seorang gadis cantik berambut panjang yang
lengannya terkait dengan Dia. Dalam balutan busana serba hitam, dan dengan
payung yang berwarna hitam pula. Ternyata memang secepat itu aku dilupakan. Hanya
selang setahun dan dia sudah berhasil mendapatkan bidadari lain. Sakit? Tentu. Menangis?
Seandainya bisa aku pasti akan menangis sejadi-jadinya. Tapi, semuanya sudah
tidak mungkin lagi.
Aku masih memperhatikan Dia dengan
perempuan itu. Mereka masuk ke sebuah toko bunga, yang dulunya juga adalah toko
bunga favoritku. Tak berapa lama, mereka keluar dengan membawa sebuket bunga
besar… bunga mawar ungu. Bunga favoritku. Mereka terus berjalan menembus hujan.
Dan aku, mengikuti mereka..
Dengan dipayungi payung hitam
mereka, dan diiringi derasnya hujan yang masih enggan untuk berhenti, mereka
menuju ke sebuah pemakaman. Tunggu, siapa yang meninggal? Siapa yang dimakamkan
disini? Mereka masuk ke area pemakaman semakin dalam, dan akhirnya berhenti
disatu makam berwarna putih cerah yang sepertinya sangat kukenal. Dia
meletakkan sebuket buanga tadi di atas makam itu. Ah, ternyata bunga itu untuk
orang yang dimakamkan disini. Tapi, siapa yang dimakamkan disini? Aku mendongakan
kepalaku untuk melihat Nama yang tertera di nisan putih itu.
“Klee Audrey Gamali”
Itu namaku….
Dia menatap makam putih itu –yang ternyata
adalah makamku- dengan raut wajah penuh kesedihan.
“Klee, hari ini tepat setahun kau
pergi. Aku hanya ingin bilang bahwa aku mencintaimu, dan itu takkan bisa
berubah. Hanya saja, aku harus tetap melanjutkan hidup. Dan aku memilihnya. Dia
baik Klee.. kau juga pasti akan menyukainya. Kau harus ingat bahwa kau selalu
punya tempat dihatiku. Aku yakin kau bahagia disana”
Dan dia –bersama gadis itu- pergi..







