Tik.. tik…tik.. dentingan jam terasa begitu nyaring di
ruangan sunyi ini. Jam antic nan klasik yang terpajang manis di dinding
berlapis cat putih gading itu sudah menunjukan pukul satu malam lewat tiga
puluh menit. Namun tanda tanda aku akan terlelap sama sekali belum hadir. Mata
ini seakan tak pernah lelah mengintip dunia dari balik jendela bertirai hitam
itu. Pikiranku melemah, sudah terlalu lelah untuk tetap terjaga sedini ini.
Namun, entah dari mana datangnya, bayanganmu pasti selalu ada. Selalu saja
hadir di sini, di pikiran ini. Seakan akan kau benar nyata. Padahal semuanya
hanya delusi semata. Apakah aku segila itu karenamu? Hingga tak bisa sekedar
memejamkan mataku hanya karena kau tak pernah hilang dari pikiranku? Tolong,
hentikan ini semua.
Waktu
berlalu sangat cepat. Sadarkah kau? Namun, silih bergantinya malam dan siang
pun tak mampu menghapus dirimu. Bahkan di pagi hari yang luar biasa mendung ini
pun kau masih setia di pikiranku. Dan aku, bertahan tanpa terlelap menunggu
matahari muncul di timur, dan ternyata justru disambut kumpulan awan kelabu
yang menggantikan matahari. Sebentar lagi hujan. Hujan akan menambah buruk hari
ini. Setahun lalu, mungkin aku adalah orang yang paling antusias ketika hujan
akan datang. Namun, ketika kau mengucapkan kalimat yang membuat hatiku
mencelos, aku tak bisa lagi mencintai hujan. Terlalu pedih. Kala itu, hujan
turun seakan menemani cairan bening yang tak hentinya mengalir dari pelupuk
mataku. Dan kau tahu, itu luar biasa rasanya.
Ah,
hujan. Benar saja. Bulir bulir hujan menghiasi jendela kamarku, memburamkan
semua pandanganku ke luar jendela. Ah, hujan tak pernah terlihat semenyedihkan
ini untukku. ini yang terburuk. Ingatkah kau, dulu aku sering berkata padamu
setiap hujan bahwa aku sangat mencintai hujan. Dan kau, dengan herannya
bertanya mengapa aku mencintai hujan. lalu aku menjawab, karena aku menunggu
petir yang datang bersama dengan hujan. Kau semakin memandangku heran dan
bertanya lagi, mengapa aku menunggu petir. Dan aku hanya mengulum senyum sambil
berkata, karena aku juga mencintai petir, mereka terlihat gagah. Kau
mengakhirinya dengan mencubit hidungku sambil tersenyum sedikit takjub sedikit
tak percaya. Ya, memori itu. Kenangan itu kini berputar kembali di pikiranku. Great
job, rainy. kau membangkitkan masa masa indah itu.
Aku
sadar. Kini itu semua tak ada lagi. Tak ada lagi senyum takjubmu ketika aku
bercerita tentang hujan berama petirnya, dan bagaimana pelangi beraneka warna
itu selalu menjadi yang terbaik yang ditunggu semua orang. Ya, tak ada lagi.
Dan aku merindukan itu.
Hujan
dan kelabu diluar sana sepertinya ingin sekali di musnahkan. Besar sekali
sehingga aku sempat berpikir bahwa ini badai. Tapi anehnya, tak ada petir yang
menggelegar itu. Hujan seakan kehilangan partnernya. Terasa begitu sepi, begitu
hampa. Hanya suara hujan yang memenuhi. Sangat hambar. Hujan juga tak pernah
terasa se-ditidak inginkan seperti ini. Keep arguing. Terus berkata bahwa ini
terlihat menyedihkan, itu terlihat sangat menyedihkan, Padahal hatiku terus
berkata bahwa aku menyedihkan. Ya, aku menyedihkan. Lebih menyedihkan dari
hujan yang kehilangan partner abadinya.
Dan,
itu semua dikarenakan rasa rinduku yang begitu besar padamu. Aku menyedihkan
ketika aku memutar kembali masa masa kita, dan menyadari bahwa itu telah
berlalu. Aku menyedihkan ketika aku sering sekali berdelusi bahwa kau masih
disampingku, padahal kenyataannya engkau tak teridentifikasi berada dimana. Aku
menyedihkan ketika aku masih saja terus menangis bersama hujan, mengingat-ingat
hari itu. Aku menyedihkan ketika namamu masih saja terucap di setiap hela
do’aku, dan ketika aku menyadarinya, aku tetap tak ingin berhenti. Aku
menyedihkan karena aku masih saja merindukanmu..
Categories:








allahuakbar...bagus
Ah, terimakasih^^